AHMAD MARITULIUS SE: BAGAN SIAPI-API ADALAH SEGITIGA BIRU, LUMBUNG IKAN DUNIA YANG TERLUPAKAN
BAGAN SIAPI-API – PESISIR NASIONAL- Di tengah gencarnya perjuangan pembentukan Provinsi Riau Pesisir, ada satu potensi raksasa yang hampir terlupakan padahal pernah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Potensi itu adalah Bagan Siapi-api.
Hal itu ditegaskan oleh Mantan Pejuang Pendiri Kota Dumai dan Wakil Ketua Badan Perjuangan DOB Riau Pesisir, Ahmad Maritulius, SE.
Menurut pria yang akrab disapa Lius itu, jika Dumai, Duri dan Siak disebut sebagai Segitiga Emas karena migas dan industri, maka Bagan Siapi-api adalah Segitiga Biru
, yaitu lumbung ikan dan kekuatan maritim Riau Pesisir.
“Kalau kita bicara Riau Pesisir, jangan hanya bicara minyak Dumai dan sawit Siak saja. Kita punya Bagan Siapi-api, yang sejarahnya adalah penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Bergen, Norwegia. Ini fakta sejarah dunia, bukan dongeng,” ujar Ahmad Maritulius, SE kepada wartawan, Kamis malam (02/10/2026).
Data Sejarah Bagan Siapi-api Sebagai Kota Cahaya Dunia:
Ahmad Maritulius, SE membeberkan data konkrit kejayaan Bagan Siapi-api:
Pada masa kejayaan tahun 1930 di zaman pemerintahan Hindia Belanda, Pelabuhan Bagan Siapi-api yang menghadap langsung ke Selat Malaka mampu menghasilkan ikan sebanyak 300.000 Ton per tahun. Hasil yang luar biasa itu membuat Bagan Siapi-api menjadi pelabuhan ikan terbesar di dunia saat itu.
Karena kejayaannya tersebut, pada tahun 1934, Bagan Siapi-api telah memiliki fasilitas modern yang belum dimiliki kota lain di Sumatera, seperti instalasi air minum, listrik, dan pemadam kebakaran. Kota ini bahkan dijuluki dunia sebagai Ville Lumiere atau Kota Cahaya.
“Sayangnya, kejayaan itu meredup sejak 1970-an. Padahal potensi lautnya masih sangat besar. Sampai hari ini Bagan Siapi-api sebagai Ibukota Rokan Hilir masih menjadi pusat nelayan dan penghasil kerang terbesar,” jelasnya.
Masa Depan Segitiga Biru di Provinsi Riau Pesisir:
Lius menilai, Bagan Siapi-api harus kembali dibangkitkan sebagai International Fish Market dan pusat industri perikanan modern yang berorientasi ekspor ke Malaysia dan Singapura.
“Pemerintah Pusat sudah melihatnya. Investor Jepang saja antusias mau membangun International Fish Market di Bagan Siapi-api lengkap dengan pabrik es dan pengalengan ikan. Bayangkan kalau ini berada dalam satu manajemen Provinsi Riau Pesisir yang fokus di pesisir, tentu pembangunannya akan jauh lebih cepat,” tegas Ahmad Maritulius, SE.
Ia menambahkan, dengan bersatunya Segitiga Emas (Dumai-Duri-Siak) yang kaya migas dan industri, dengan Segitiga Biru (Bagan Siapi-api) yang kaya ikan dan laut, serta Segitiga Hijau (Meranti) yang kaya sagu dan pangan, maka Provinsi Riau Pesisir akan menjadi provinsi yang lengkap dan mandiri, mampu bersaing langsung dengan Singapura dan Malaysia di Selat Malaka.
“Ini yang kita perjuangkan. Bukan hanya pemekaran, tapi mengembalikan marwah dan kejayaan pesisir Riau yang pernah menjadi cahaya dunia,” pungkas Ahmad Maritulius, SE.
*(Redaksi Pesisir Nasional)*




