Mon. Jun 17th, 2024

MERANTI (pesisirnasional.com)- Tepatnya pada hari Rabu, 11 Maret 2020 sekitar pukul 17.30 Wib masyarakat Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti dihebohkan dengan informasi seorang warga mengamuk di Markas Polisi Resort (Mapolres) Meranti. Kejadian ini bertambah heboh dengan dikabarkannya pelaku meninggal dunia akibat tertembak salah seorang anggota Polres Kepulauan Meranti yang saat itu membela diri dan dalam situasi terdesak.

Informasi ini menjadi pertanyaan seluruh tokoh masyarakat Meranti yang saat itu dengan sigap melakukan mediasi atau pertemuan mendadak bersama Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Anggota DPRD Meranti, pihak Polres Kepulauan Meranti dan puluhan insan pers di Meranti. Pertemuan tersebut dilakukan guna mengantisipasi terjadinya gejolak ditengah masyarakat yang berujung anarkis terhadap penegak hukum akibat simpang siur informasi yang didapatkan, sehingga dianggap perlu untuk melakukan pertemuan itu yang mengambil tempat di ruang rapat Kantor DPRD Meranti, Rabu (11/03/2020) malam sekitar kurang lebih pukul 22.20 Wib malam.

Dalam pertemuan itu, hadir mewakili Kapolres Meranti yakni Kabag Sunda Polres Meranti, Kompol. Areng didampingi saksi yang merupakan anggota di tempat kejadian, Aiptu. Hendra dan Brigadir Tomi bersama sejumlah anggota Polres Meranti lainnya. Sementara itu dari Pemerintahan dihadiri Wakil Bupati Meranti, Drs. H. Said Hasyim, Asisten I Sekda Meranti, Kepala Satpol PP Meranti, Helfandi, SE.MM beserta anggota, sejumlah Anggota DPRD Meranti yakni Muzamil, Dedi Yuhara Lubis dan Khosairi, Kasubbag Humas dan Protokol DPRD Meranti, Gafur, sejumlah tokoh masyarakat serta komponen lainnya.

Dalam pertemuan tersebut Kabag Sumda Polres Kepulauan Meranti, Kompol. Areng mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menjelaskan secara detail dari permasalahan tersebut, namun pihaknya membawa saksi yang saat itu berada di lokasi kejadian.

Dimana saat kejadian terjadi pada pukul 17.30 Wib setelah jam kantor selesai. Waktu itu saya ditelpon sama Kapolres bahwa ada kejadian di SPKT setelah saya cek ternyata memang benar. Namun terhadap kejadian ini saya tidak bisa menjelaskannya secara detail kronologi dan suatu statement karena saya tidak mengalaminya secara langsung, tapi kami menghadirkan anggota yang saat itu bertugas di SPKT, pungkasnya.

Kanit SPKT II, Aipda. Hendra yang saat itu sedang bertugas di Mapolres menceritakan kronologis kejadian dalam forum tersebut. Dijelaskannya, saat itu sekitar pukul 17.30 Wib anggota saya bernama Bripka Rizki Kurniawan minta izin untuk berobat karena kakinya sakit setelah itu tidak lama kemudian anggota saya balik ke kantor dengan membonceng seseorang yang tidak saya kenal dan saya menanyakan kepada anggota saya ada apa dengan dia, lalu dijawab dia telah berbuat rusuh di jalanan dan terpaksa diamankan.

Ketika saya tanyakan kepada korban dia tinggal dimana, yang bersangkutan menjelaskan bahwa tinggal di Jalan Perjuangan dan tinggal di masjid, bahkan sebelumnya tinggal di pesantren dan dia juga mengaku jika agamanya Islam. Setelah di SPKT yang bersangkutan lalu dibawa ke kantor untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dimana saat itu yang bersangkutan juga membawa sebuah paralon yang digunakan untuk berbuat kekacauan di jalan tadi.

Lebih lanjut dibeberkannya, saat anggota ingin memerikas isi tas yang bersangkutan namun dia bersikeras tidak mau tas sandang yang dibawanya diperiksa petugas sampai pada akhirnya pihak Reskrim datang dan mengejarnya lalu dia mengajak Brigadir Tomi untuk berduel dan memukuli Tomi dengan paralon hingga patah. Selain itu, sebelumnya dia juga menggebrak meja sambil berteriak-teriak Allahuakbar sampai monitor di atas meja terbalik. Lalu saya merasa tersinggung dan mengatakan kalau anda harus sopan di sini.

Setelah mau diperiksa tasnya dia semakin brutal dan kembali mengajak anggota Reskrim berkelahi, lalu ketika Tomi ingin melerai dia malah memukul Tomi dan mengeluarkan sebuah pisau dari pinggangnya. Pada saat posisi jarak antara keduanya tidak begitu jauh yakni sekitar lebih kurang 1 meter, Brigadir Tomi merasa terdesak dan terpaksa mengeluarkan senjata api untuk melumpuhkan korban dan akhirnya tewas terlungkup dengan pisau masih di tangannya, ujar Hendri.

Selajutnya korban dipastikan meninggal setelah pihak kepolisian meminta dokter untuk memeriksa kondisi jasad korban, selain itu di celana korban juga tidak ditemukan identitas dan pihak keluarga juga belum diketahui hingga kini, ungkapnya menceritakan.

Menanggapi hal tersebut, Kabag Sunda Polres Meranti, Kompol. Areng mengatakan, keterangan dari anggota kita akan kita lakukan penyelidikan lebih lanjut dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) nantinya, untuk itu saya berharap kepada seluruh masyarakat Meranti jangan salah menilai dan membuat kerusuhan, izinkan kami untuk melakukan proses penyelidikan lebih lanjut dan jika nantinya ada tindakan yang salah baik itu dari anggota kita tetap akan kami proses sesuai hukum yang berlaku, ungkapnya berjanji.

Sementara itu, Wakil Bupati Meranti, Drs. H. Said Hasyim dalam arahannya menyampaikan, keterangan dari pihak Polres tadi saya fikir sudah jelas dan perlu kita hormati, kita minta kepada pihak kepolisian untuk bertindak tegas dan segera memberikan keterangan resmi lebih lanjut nantinya dari hasil penyelidikan terhadap korban saat ini. Selain itu juga, kepada seluruh masyarakat Kepulauan Meranti diharapkan untuk menahan diri, jangan melakukan tindakan semena-mena, saring isu atau informasi yang didapat baik langsung maupun dari media sosial dengan bijak, jangan termakan informasi bohong yang masih belum akurat sumber beritanya. Saya akan membantu mengawal jalannya proses ini nantinya sampai selesai, pungkas orang nomor dua di Meranti tersebut.

Usai pertemuan tersebut barulah seluruh masyarakat dan Polres Meranti mendapatkan identitas diri dari korban, dimana korban tersebut atas nama Abdul Hamid warga Desa Melai Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti. Korban yang sehari-hari tinggal di jalan Alah Air Selatpanjang tersebut diduga kuat mengalami ganggun jiwa.

Informasi ini diperkuat lagi dari hasil konfirmasi pesisirnasional.com terhadap tetangga korban di Alah Air, Yatimun. Dijelaskannya, menurut sepengetahuan saya bang, korban memang mengalami gangguan kejiwaan, hal itu dialaminya lebih kurang 3 atau 4 bulan belakangan ini. Diakui Yatimun, beliau selama ini sehari-hari berkerja sebagai tukang (kuli bangunan,red) di wilayah Selatpanjang, dan beberapa bulan belakangan inilah beliau mengalami gangguan jiwa namun setau saya beliau tidak ada mengusik masyarakat sekitar, sehingga memang informasi kejadian hari ini sangat mengejutkan kami sebagai tetangganya, ungkap peria tersebut saat dihampiri di halaman RSUD Meranti.(Andi)

By redaksi