Wed. Jul 17th, 2024

PesisirNasional.com – Kodam XVIII/Kasuari bersama Kodim 1809/Maybrat memberikan bantuan kepada sejumlah warga Kampung Kisor Distrik Aifat Selatan yang mengungsi ke Distrik Aitinyo pascapenyerangan oleh KNPB terhadap Pos Koramil Persiapan Kisor, Kampung Kisor Distrik Aifat Selatan kabupaten Maybrat, Papua Barat.

Diketahui, dalam inisiden yang terjadi pada 2 September 2021 tersebut, telah mengakibatkan sebanyak empat anggota TNI gugur.

“Sebagai bentuk perhatian kepada para masyarakat yang mengungsi ke Distrik Aitinyo, Kodim 1809/Maybrat, Kodam Kasuari memberikan dukungan bantuan logistik berupa makanan ringan, Sabtu (11/9),” kata Kepala Penerangan Kodam XVIII/Kasuari Letnan Kolonel Arm Hendra Pesireron dalam keterangannya, Minggu (12/9).

Ia menyebut, bantuan terhadap pengungsi diberikan langsung oleh Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 1809/Maybrat Kapten Inf Untung Wiyono didampingi Plt. Danramil Aitinyo di salah satu rumah warga yang menampung para pengungsi tersebut.

“Saat pembagian bantuan, Pasiter dan Danramil membagikan satu-satu kepada warga terlihat para masyarakat antusias dan berkumpul untuk antre menerima dukungan makanan tersebut,” sebutnya.

Sementara itu, Untung menjelaskan, alasan pihaknya memberikan bantuan kepada warga atau pengungsi. Karena sudah satu minggu sejak kejadian penyerangan Pos Koramil, mereka tinggal di pengungsian dan tentunya kondisi tersebut memerlukan banyak kebutuhan.

“Mereka sudah seminggu lebih meninggalkan rumah mereka, tentunya sangat memerlukan kebutuhan terutama masalah pangan. Kami hadir di sini untuk membantu para warga tersebut,” jelas Untung.

Selain bantuan makanan, pihaknya juga memberikan bantuan pakaian yang layak pakai.

“Selain makanan, kami berinisiatif juga memberikan bantuan pakaian. Karena juga sangat diperlukan terutama untuk anak-anak. Semoga bantuan ini bermanfaat,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kapendam XVIII Kasuari, Kolonel Arm Hendra Pesireron mengatakan, adanya ancaman dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) terhadap warga Kabupaten Maybarat. Sehingga, membuat warga tak berani untuk kembali ke kediamannya dan lebih memilih untuk mengungsi ke lokasi lainnya.

“Sebagian sudah melapor ke pos, tetapi mereka memilih untuk ke Sorong, Ayamaru, Aitinyo. Iya (milih ke tiga lokasi) karena mereka diancam sama KNPB. Kalau mereka balik ke kampung dibunuh,” kata Hendra saat dihubungi merdeka.com, Rabu (8/9).

Meski begitu, petugas ingin agar warga dapat kembali ke rumahnya masing-masing. Hal ini dilakukan dengan menempelkan sebuah sticker yang mana berisi agar warga dapat melakukan kegiatan seperti biasanya.

Karena, petugas gabungan sudah membuat sejumlah pos di lokasi tersebut untuk menjaga masyarakat agar tak dapat diganggu kembali oleh KNPB.

“Yang kampung sekitar situ rata-rata sudah tidak ada, di kampung-kampung lain masih ada. Makanya kita tempatkan pos-pos gabungan disitu,” ujarnya.

“(Kondisi) kondusif, sudah aman. (Total warga) belum bisa dihitung, lagi didata juga,” tambahnya.

Hendra menegaskan, pihaknya akan terus melakukan perburuan terhadap KNPB hingga ke ujung dunia sekali pun dengan menerjunkan ratusan personel.

“(Perburuan) Terus dilakukan sampai ke ujung dunia. (Petugas) Kalau TNI satu kompi, kalau Polri 50-an orang dari Brimob,” tegasnya. [fik]

Sumber: Merdeka

By redaksi