BERBAGI

MERANTI (pesisirnasional.com)- Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bekerjasama dengan Norway International Climate and Forest Initiative (NICFI) dan United Nations Office for Project Services (UNOPS) menggelar Pelatihan Inokulasi Tanaman Gaharu di Lahan Gambut yang mengambil tempat di gedung MDTA Desa Mekar Sari, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti pada Rabu (9/6/2021).

Beberapa petani di Kecamatan Merbau yang termasuk dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Pulau Padang, telah membudidayakan tanaman gaharu secara swadaya sejak tahun 2012. Sampai saat ini, kebun-kebun gaharu dapat dijumpai di Desa Mekar Sari, Desa Sungai Anak Kamal dan secara terbatas dijumpai di Desa Bagan Melibur dan Desa Mayang Sari, seluruhnya di wilayah Kecamatan Merbau, Kabupaten kepulauan Meranti.

Menariknya lagi, sebagai narasumber serta instruktur dalam pelatihan dan praktek inokulasi gaharu ini adalah Tenaga ahli dari Puslitbang Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Profesor (Ris) Dr Maman Turjaman DEA dan Najmulah.

Deputi Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan (KOP) BRGM, Dr Tris Raditian ST MM mengatakan, budidaya gaharu di Kecamatan Merbau ini dinilai telah sejalan dengan strategi dan rencana aksi restorasi ekosistem gambut oleh BRGM, khususnya revegetasi dan revitalisasi matapencaharian masyarakat setempat.

“Salah satu tantangannya adalah bagaimana mencegah jenis-jenis pohon penghasil gaharu di hutan alam dan di lahan gambut agar tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari,” ucap Dr Tris Raditian ST MM.

Untuk itu upaya budidaya pohon penghasil gaharu di lahan gambut oleh masyarakat Kecamatan Merbau ini perlu difasilitasi agar dapat berkembang dan diadopsi masyarakat lainnya, sekaligus untuk melestarikan ekosistem gambut KHG Pulau Padang.

“Pelatihan ini untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang teknik inokulasi gaharu kepada para peserta pelatihan, sehingga produksi gaharu dapat direncanakan dan dipercepat dengan cara melakukan induksi jamur pembentuk gaharu pada pohon penghasil gaharu, pungkasnya.

Sementara itu, Camat Merbau, Abdul Hamid SThI MM dalam pelatihan ini mengatakan, banyak masyarakat Merbau yang kenal dengan pohon penghasil gaharu dan bisa menanamnya, namun yang sangat penting adalah cara memeliharanya di lahan gambut dan menggunakan teknologi produksi untuk menghasilkan gaharu.

“Gaharu adalah produk yang berbentuk gumpalan padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum yang terdapat pada bagian kayu atau akar. Gaharu merupakan komoditi unggulan hasil hutan bukan kayu yang mahal harganya, dan banyak diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu gaharu seringkali disebut Emas Hitam,” terangnya.

Industri gaharu di banyak negara telah memproduksi berbagai jenis parfum, hio/dupa, sabun, teh gaharu, obat-obat herbal dan kebutuhan konsumen lainnya yang berbasis gaharu.

“Untuk itu penting dalam pelatihan inokulasi tanaman gaharu ini para peserta, yaitu kelompok masyarakat lima Desa di Kecamatan Merbau dan para penyuluh pertanian untuk fokus dalam mengikuti seluruh jalannya pelatihan, agar memahami tata-cara budidaya, perawatan dan penerapan teknologi inokulasi gaharu,” Abdul Hamid,S.TI, MM, Camat Merbau.

Jika masyarakat telah merasakan manfaat ekonomis dari panen budidaya tanaman gaharu atau tanaman lainnya di lahan-lahan gambut mereka, maka diharapkan hal ini menjadi salah satu pendorong bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan terlibat secara berkelanjutan dalam upaya pelestarian fungsi lahan gambut dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut.

“Kami sangat mengapresiasi pelatihan BRGM ini agar para Pokmas dan penyuluh pertanian Kecamatan Merbau yang terlibat dapat memahami teknologi inokulasi gaharu diharapkan dapat menyebarluaskan kepada anggota masyarakat lainnya yang belum berkesempatan ikut dalam pelatihan ini,” pungkas Camat Abdul Hamid.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau diwakili Kepala Seksi Perencanaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tebing Tinggi, Budiansyah mengatakan, program budidaya pohon penghasil gaharu di Kecamatan Merbau ini kami nilai sejalan dengan program pemerintah Provinsi Riau yaitu “Riau Hijau”. Sehingga terlibatnya masyarakat secara aktif diperlukan untuk turut menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem gambut secara keseluruhan, dan di sisi lain memberikan manfaat ekonomi bagi mereka, ungkapnya.

Prospek untuk menjadikan gaharu sebagai komoditi andalan di KHG Pulau Padang terbuka jika dapat diperkenalkan teknologi rekayasa produksi gaharu, yang biasa disebut Teknologi Inokulasi. Teknologi ini dapat mempercepat terbentuknya gaharu pada pohon penghasil gaharu, dan meningkatkan produksi gaharu, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gaharu di pasar. Dengan demikian, usaha budidaya gaharu akan membuahkan hasil dan dapat meningkatkan pendapatan petani gaharu di Kecamatan Merbau.

Ketersediaan teknologi inokulasi yang dapat meningkatkan hasil gaharu diharapkan mampu mendorong percepatan revegetasi di KHG Pulau Padang, sekaligus menciptakan peluang revitalisasi matapencaharian, melalui budidaya gaharu di Kecamatan Merbau sejak diinisiasi oleh BRGM di Provinsi Riau tahun 2018.

Terlihat hadir saat itu, Camat Merbau, Abdul Hamid SThI MM, Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Peternakan Meranti, Polsek Merbau, Bhabinkamtibnas, Babinsa, Kades Mekar Sari, Erman SPd, Kades Bagan Melibur, Isnadi Esman SPd, Kades Mayang Sari, Ibrahim, Kades Sungai Anak Kamal, Mastowi SPd, dan Kades Lukit, Jumilan. Sementara itu juga dihadiri Deputi KOP BRGM, jajaran BRGM, Kepala Kelompok Kerja Sumatera, Ir Soesilo Indrarto MSi, Kepala Sub Kelompok Kerja Wilayah Riau, Sarjono Budi Subechi SE, Silviculturist BRGM, Harri Kuswondho, dan Fransiskus Harum serta komponen lainnya.(Andi)